Menu

Mode Gelap

Majalah · 29 Jan 2024 WIB

Apa itu LFP (Lithium Ferro Phospate) ?


Apa itu LFP (Lithium Ferro Phospate) ? Perbesar

OAtekno.com – Baterai Lithium Ferro Phospate (LFP) sebenarnya bukan barang baru, telah ada lebih lama dari baterai berbasis nikel, dikembangkan pertama kali pada tahun 1990-an. Namun, kepadatan energi dan daya output sel LFP kala itu terbatas, sehingga para peneliti mengembangkan katoda (elektroda positif) menggunakan kombinasi nikel, kobalt, dan mangan (NMC) atau aluminium (NCA) pada tahun 2000-an. Meskipun lebih mahal dan kurang stabil dibandingkan kimia LFP, baterai ini memiliki kepadatan energi lebih tinggi (penyimpanan energi lebih banyak untuk berat dan volume yang sama), membuatnya cocok untuk aplikasi performa tinggi.

Selama 1 dekade terakhir, produsen mobil listrik banyak menggunakan keunggulan katoda berbasis nikel demi mengejar jarak tempuh lebih jauh dan performa tinggi. Ini karena Baterai NMC dan NCA lebih unggul dalam hal kepadatan energi dan performa. Namun, katoda berbasis nikel dan kobalt harganya lebih mahal dan tingkat energinya yang tinggi membuat mereka tidak stabil dan lebih rentan terbakar jika digunakan secara tidak semestinya atau diisi daya berlebih atau kurang. Sehingga, secara keseluruhan baterai LFP merupakan pilihan tepat untuk aplikasi di mana biaya dan keamanan menjadi prioritas utama.

 

Kelebihan dan Kekurangan

Sebagai contoh, penggunaan baterai LFP di kendaraan listrik (EV) semakin meluas sebagai alternatif yang lebih hemat biaya dan berkelanjutan dibandingkan baterai lithium-ion tradisional. Ketahanan, keamanan, dan keterjangkauan baterai LFP mendorong Tesla, Ford, dan pabrikan besar lainnya untuk beralih ke teknologi ini pada beberapa model EV mereka. Tesla menggunakan baterai LFP pada beberapa mobil Standard Range mereka. Begitupun Ford yang akan memberikan opsi baterai LFP untuk beberapa model mobil listriknya. Pabrikan lain yang menggunakan baterai LFP termasuk BYD, CATL, dan Nio.

Kelemahan jarak tempuh LFP yang lebih pendek pada EV mungkin tidak menjadi masalah besar, mengingat perjalanan pulang-pergi harian rata-rata pengguna masih jauh lebih pendek dari kapasitas baterai LFP yang ada saat ini. Selain itu, ke depannya perkembangan infrastruktur pengisian daya EV yang ekstensif akan memungkinkan perjalanan yang lebih jauh lagi.

Keunggulan lain LFP dibandingkan baterai kimia nikel dan kobalt adalah mereka sedikit lebih mudah didaur ulang. Namun, nilai besi, fosfat, dan lithium mereka jauh lebih rendah dari nikel dan kobalt pada baterai NMC dan NCA. Hal ini dapat membuat daur ulang baterai LFP kurang menguntungkan dan, akibatnya, kurang menarik bagi perusahaan yang berspesialisasi dalam daur ulang baterai EV.

Pada akhirnya, keputusan menggunakan baterai LFP pada EV bersifat kompleks dan bergantung pada berbagai faktor, termasuk biaya baterai, kebutuhan jangkauan, dan ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Solusi yang paling mungkin adalah campuran kimia baterai, termasuk NMC dan NCA untuk performa tinggi dan jarak jauh, serta LFP untuk EV yang lebih umum dan terjangkau yang akan hadir di masa depan.

Setidaknya teknologi ini menjadi alternatif di kala Nikel sulit didapatkan dengan harga dan usaha yang wajar-wajar saja.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Tim

Baca Lainnya

Perbedaan AC Standard VS Low Watt vs Inverter

14 April 2024 - 01:13 WIB

Beda tipe AC

Google Bard Kini Bisa Buat Gambar dengan AI

1 Februari 2024 - 21:57 WIB

Cara Cek Apakah Xiaomi anda Kebagian HyperOS sebagai Pengganti MIUI

28 Januari 2024 - 16:47 WIB

Siapakah Transsion Holding dan apa hubungannya dengan Infinix Indonesia?

24 Januari 2024 - 23:16 WIB

TECNO CAMON 20 Series: Ubah Objek Biasa Jadi Instagramable

14 Januari 2024 - 12:34 WIB

Bluetooth Auracast: Teknologi Audio Terbaru yang Mengubah Segalanya

12 Januari 2024 - 15:29 WIB

Trending di Majalah