OAtekno.com – Smart Assist eFootball menjadi topik hangat di kalangan pemain setelah Konami menyematkan fitur ini dalam beberapa pembaruan terakhir. Fitur tersebut dirancang untuk membantu pemain pemula, namun di sisi lain memicu perdebatan karena dianggap mengganggu keseimbangan kompetitif, khususnya di kalangan pemain berpengalaman di PC dan konsol.

Seiring meningkatnya adopsi fitur ini, diskusi komunitas pun mengarah pada pertanyaan besar mengenai batas antara bantuan sistem dan campur tangan berlebihan dalam mekanik permainan.

Cara Mendeteksi Penggunaan Smart Assist di eFootball

Pemain yang sudah terbiasa membaca mekanik eFootball umumnya dapat mengenali tanda-tanda Smart Assist melalui indikator visual. Salah satu ciri yang sering disebut adalah perubahan warna power bar di atas kepala pemain lawan.

Dalam kondisi normal, warna ungu pada indikator tenaga hanya muncul ketika pemain melakukan Stunning Shot atau Stunning Pass yang membutuhkan kombinasi tombol manual dan waktu persiapan tertentu. Namun, pada situasi tertentu, indikator tenaga dapat berubah menjadi ungu secara tiba-tiba tepat sebelum bola dilepas, meskipun sebelumnya terlihat seperti tendangan biasa.

Perubahan instan ini menunjukkan adanya koreksi otomatis dari sistem. AI menyesuaikan tenaga dan akurasi tembakan agar hasilnya optimal, bahkan ketika posisi tubuh pemain di dalam gim tidak mendukung secara ideal.

Alasan Smart Assist Dianggap Mengganggu Sportivitas

Penolakan terhadap Smart Assist tidak muncul tanpa dasar. Banyak pemain menilai bahwa cara kerja fitur ini melampaui konsep bantuan sederhana dan mulai memengaruhi interaksi antar pemain.

Pertama, sebagian pemain merasakan respons bertahan yang tidak konsisten saat menghadapi lawan dengan Smart Assist. Animasi bek terkadang terlihat terlambat atau tidak natural, sehingga membuka ruang serangan yang seharusnya bisa diantisipasi dengan timing manual yang tepat.

Selain itu, sistem juga dapat memicu gerakan menghindar otomatis pada momen kritis. Gerakan kecil seperti flick atau perubahan arah terjadi tepat ketika tackle dilakukan, membuat upaya bertahan yang sudah diperhitungkan menjadi kurang efektif.

Dampak lainnya adalah berkurangnya jarak kemampuan antar pemain. eFootball sejak lama dikenal menuntut presisi kontrol, pemahaman ruang, dan pembacaan arah serangan. Ketika AI ikut menentukan tenaga, arah, dan eksekusi, perbedaan antara pemain yang menguasai mekanik dan pemain kasual menjadi semakin tipis.

Harapan Komunitas terhadap Sistem Matchmaking

Menariknya, sebagian besar komunitas tidak menuntut penghapusan total Smart Assist. Banyak pemain memahami bahwa fitur ini membantu pendatang baru untuk beradaptasi dan menikmati permainan tanpa tekanan berlebihan.

Solusi yang paling sering diusulkan adalah penambahan opsi filter pada matchmaking. Dengan sistem ini, pemain dapat memilih untuk bertanding secara bebas dengan semua jenis kontrol, atau membatasi lawan hanya pada pengguna kontrol manual tanpa Smart Assist.

Pendekatan tersebut dinilai lebih adil karena memberi ruang bagi semua tipe pemain. Penggemar simulasi sepak bola yang mengutamakan kendali penuh tetap mendapatkan pengalaman seimbang, sementara pengguna Smart Assist dapat bermain tanpa memengaruhi ekosistem kompetitif lainnya.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai Smart Assist eFootball menyoroti pentingnya keseimbangan antara aksesibilitas dan keadilan. Keputusan pengembang dalam menyempurnakan sistem matchmaking akan sangat menentukan arah komunitas eFootball ke depan.