OAtekno.com – Raksasa kosmetik Korea Selatan, AmorePacific, baru saja meluncurkan laboratorium kecantikan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang langsung menarik perhatian banyak pelanggan.
Laboratorium ini menawarkan pengalaman unik di mana robot AI dapat mencampur produk kosmetik sesuai kebutuhan dan merekomendasikan warna lipstik yang sesuai dengan warna kulit pelanggan.
“Setiap orang memiliki warna kulit spesifik, namun kebanyakan hanya membeli warna yang umum tersedia di pasaran,” ujar Kwon You-jin, pelanggan berusia 32 tahun yang mencoba layanan kosmetik cerdas ini. “Mendapatkan lebih banyak data tentang kulit saya sendiri, dan melihat hasil perbedaannya secara langsung, merupakan pengalaman yang luar biasa,” tambahnya setelah menerima laporan hasil analisis kulit yang dibuat AI. Setelah analisis tersebut, robot AI kemudian mencampur foundation yang disesuaikan dengan warna kulit Kwon You-jin.
Tren penggunaan AI di dunia kecantikan kini semakin meningkat. Merek global seperti L’Oréal dan Sephora milik grup LVMH juga memanfaatkan teknologi ini untuk menciptakan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Menurut prediksi Statista Market Insights, penjualan industri kecantikan global, termasuk kosmetik, mencapai USD 625,6 miliar (sekitar Rp 10 kuadriliun) pada 2023. Angka ini terus meningkat stabil setiap tahunnya sejak penurunan pada 2020 akibat pandemi Covid-19.
Baca juga: Apple Update Tampilan Aplikasi Senter di iOS 18
Teknologi di Balik Robot AI AmorePacific
AmorePacific mengklaim mereka menggunakan AI untuk merekomendasikan pilihan terbaik dari 205 foundation dan 366 warna produk bibir yang berbeda kepada pelanggan. “Kami menggunakan deep learning dan teknik machine learning untuk mengubah proses evaluasi data dari banyak kulit orang yang dilakukan para ahli menjadi layanan otomatis,” ujar Lee Young-jin, engineer sekaligus penasihat bisnis kecantikan custom AmorePacific. Para analis percaya bahwa penggunaan AI sebagai pengganti konsultan manusia dapat mempercepat pengembangan produk dan mengurangi variabilitas.
Tren AI di Industri Kecantikan Meroket
“Meski seorang ahli sudah sangat profesional, perbedaan individual bisa sangat besar. Selain itu, berkonsultasi dengan 30 hingga 40 ahli untuk mengevaluasi kosmetik secara terus-menerus tentu sulit dilakukan,” ujar Yang Yong Suk, peneliti utama di Institut Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Korea Selatan, yang turut mengembangkan model deep learning untuk tekstur produk kosmetik. “Saat ini, waktu pengembangan produk semakin singkat, dan kian banyak produk baru diluncurkan dengan cepat,” ucap Yang. Ia menambahkan bahwa menggabungkan teknologi AI dapat semakin menurunkan hambatan tersebut.
Menurut penyedia analisis Business Research Company, pasar penggunaan AI dalam industri kecantikan dan kosmetik diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari USD 3,27 miliar (sekitar Rp 53 triliun) pada 2023 menjadi USD 8,1 miliar (sekitar Rp 131 triliun) pada 2028. Peningkatan ini didorong oleh ekspansi layanan seperti rekomendasi kecantikan personal, analisis dan diagnosa kulit, serta virtual makeup artist.
Dengan langkah-langkah inovatif ini, AmorePacific dan perusahaan lain yang mengadopsi teknologi AI dalam produknya, semakin memperkuat posisi mereka dalam industri kecantikan global yang terus berkembang.


